Sabtu, 09 September 2017

Bukan Putri Raja Yang Aku Cari

Bulan Agustus kemarin, tepatnya pada tanggal 26. Usiaku genap menginjak umur 21 tahun. Ah, waktu berjalan begitu cepat. Yang aku ingat, kemarin masih bisa bermain dengan Wildan, Adit, Ipul, Sofian, Anang, dkk. Bersenang-senang, bercanda, tertawa, dan bahkan berbagi duka. Di gebukin emak contohnya. Namun sekarang, mereka sudah sibuk dengan urusanya masing-masing. Ya, walau Wildan dan Sofian masih mudah untuk di temui. Setidaknya, kini aku sadar. Bahwa aku bukan anak-anak lagi.

Usia 21 tahun adalah usia dimana umumnya seorang remaja mulai beranjak dewasa, dari pikiran pendek yang liar, penuh semangat, berani, dan penuh kegilaan menjadi seorang yang mengedepankan pikiran daripada keinginanya. Semua hal harus di lakukan dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab. Ya, siapa yang mau masuk penjara karena rebutan jajan yang berujung pemukulan? Pada masa kanak-anak, hal ini bisa di selesaikan hanya dengan pukulan gagang sapu tepat di pantat, yang di hantamkan dengan penuh perasaan oleh emak di masing-masing pihak yang berseteru.

Pada usia 21 tahun juga, semua hal yang 'diharamkan' untuk anak-anak kini menjadi 'hallal' secara rahasia-rahasiaan. Contohnya, alkohol dan film ena'-ena'. Bagaimana tidak, walaupun usiamu sudah 50 tahun, tentunya akan malu saat ketangkap basah sedang menonton film ena'-ena' itu. Ha, dasar bola firngaun !

Ya, aku ini mau masuk usia dewasa. Ada banyak hal yang harus di perbaiki. Beruntunglah, aku di didik menjadi manusia yang demokratis (baca: tahan hinaan). Jadi, segala kritik dan saran bisa diterima dengan lapang dada. Walaupun terkedang bikin nyeri! Bahkan, karena hal ini. Aku jadi punya hobi ekstrem. Yaitu dimarahi! Keren kan? Hobi ini didapat dari efek samping ndableg-nya aku saat masih anak-anak. Menurutku, menghadapi orang marah itu memacu adrenalin. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena segala hal paling baik sampai yang paling buruk bisa terjadi saat orang sedang marah. Yeah! Aku belajar ketenangan dari hal ini. Orang dewasa itu harus tenang dalam menghadapi masalah. Setuju? Sip!

Banyak hal yang mulai masuk pikiran. Yang semuanya mengalir menuju pada satu titik tujuan. Masa depan! Pemuda mana yang tidak memikirkan masa depan mereka? Jikapun ada, mereka adalah seorang pecundang!

Sekarang, bekerja adalah jalan pertama yang di tempuh untuk menyusun masa depan. Pekerjaanku saat ini adalah seorang programmer, sebuah pekerjaan yang paling menyenangkan dan 'menjijikan'. Menyenangkan karena aku memang memiliki passion di dunia ini. Dan 'menjijikan' karena kamu bisa di buat gila karena error yang disebabkan lupa menaruh titik pada saat pengkodean. Njelehi banget kan? Ya, walaupun begitu. Aku teteap cinta pekerjaan ini.

Selanjutnya, hal yang mulai menggangu pikiran adalah masalah perjodohan. Tentu saja. Seekor keledai pun akan bersedih saat dia tidak bisa menemukan jodohnya. Ada yang bilang, jodoh itu di tangan Tuhan. Jadi, Tuhan yang mengatur semua hal perjodohan di dunia. Tapi, ya tapi. Apa benar, Tuhan mau ngasih jodoh sama orang-orang yang benar-benar tidak patuh pada-Nya. Tapi, ya tapi lagi. Justru orang 'kafir' nan tidak taat yang bertemu jodohnya terlebih dahulu. Akhi-akhi yang berjenggot mah lewat. Lha wong yang di arepin itu bidadari syurga. Ceilah, menusuk gaes!

Setiap mamas-mamas pasti punya kreteria tersediri untuk mba-mba yang akan di jadikan istrinya, tentunya. Pasti yang utama, wajah cantik, putih bersih, baik, tidak sombong, taat, rajin beribadah, dll. Iya, kalaupun ada, apa mau sama mamas-mamas yang ngimpinya sampai nyuduk bandhot itu? Halah, apasih salahnya mimpi! Ssst, malah ada penjalukan yang lebih 'anu' lagi. Mau di poligami. Kalaupun ada, keduanya itu gila dalam berperasaan, dan ber-e'o-'e'oan... Halah, apasih!

Dan, buatku sendiri. Kriteria yang utama untuk calon istri di masadepan, doi haruslah seorang yang pintar, itu saja. Yap! Cuma pintar! Karena pujian buat wanita seharusnya bukan hanya cantik dan seksi. Wanita harus pintar sejak dalam pemikiran, dia harus sadar akan dunia, sadar akan apa yang dia hadapi. Dan tentunya, sadar bahwa suaminya itu gila!

Ya, aku ini gila. Karena orang yang mengaku dirinya gila itu waras. Nah loh. Terkadang, pikiranku bisa lelah. Lelah selelah-lelahnya. Makan, gak doyan. Tidur, gak nyenyak, seakan hidup segan, mati tak mau. Ya, karena hal inilah aku benar-benar butuh seorang pendamping yang pintar. Pintar dalam menutupi kekuranganku, dan pintar menyembuhkan segala kelelahan. Dia juga haruslah wanita yang kuat, kuat dalam jiwa dan raga. Halah, ujungnya juga banyak maunya ini... haha...

Eits, memang pintar bukan sembarang pintar. Menurut penelitian. Terbukti, bahwa kecerdasan anak cenderung di turunkan dari ibunya. Nah, kalau ibunya pintar kan pasti anaknya juga ngikut. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya pintar dan berprestasi.

Kelak, aku tidak akan mengizinkan istriku bekerja ke orang lain, walaupun kepada negara sekalipun! Bolehlah jika kelak aku punya bisnis dan dia yang mengurus, hehe. Setidaknya, supaya tidak ada atasan di atas tanggung jawabnya sebagai istri. Tanggung jawab istri itu berat, bahkan berat seluruh gunungpun kalah. Ini mengapa setiap anak harus memuliakan ibunya. Dan suami harus menyayangi dan mengerti istrinya.

Sekian,

Em Suryadi

Sumber:

Show Comments